Laut Minoritas

0 24

MANUSIA sebagai makhluk minoritas jangan sombong. Mungkin seperti itu pesan tersirat dari laut. Penguasa semesta. Pemiliki 70 persen komposisi bumi. Superior secara area, inferior dimata manusia.

Jangankan konflik dengan laut. Sesama manusia saja, masih ada kelompok mayoritas dan minoritas. Jadi, tidak heran, jika laut dijuluki kumpulan mayoritas paling sabar di dunia.

Tapi, kini malah jadi minoritas. Diludahi, disampahi, bahkan dicemari. Tetap legowo. “Masih saya pantau kalian,” gumam laut dalam hati.

Begitu laut murka. Kelar semua umat manusia. Sedikit kibasan tsunami saja, manusia kocar-kacir tidak berdaya. Bagaimana jika seluruh isi laut dimuntahkan ke daratan? Belum lagi jika kawan-kawan beku mereka di kutub ikut meleleh. Lalu bersatu di samudera.

Pelan tapi pasti, polemik di laut semakin mirip volumenya. Konsisten meluap. Mirip luapan rob di Jakarta Utara baru-baru ini. Mulai dari kasus pencemaran lingkungan, persoalan teritori, pencurian hasil laut oleh kapal asing, dan sebagainya.

Sampah Plastik

Sebelum ada pesawat terbang. Para penjelajah dunia berkelana dengan kapal laut. Bahkan, para perantau di Pulau Jawa pun merasakan hal serupa. Menumpangi kapal membelah selat dan samudera. Khususnya jika mudik jalur darat.

Saat di kapal, ada ritual unik dari oknum penumpang. Prosesi pelarungan sampah. Tidak semua memang. Tapi pasti selalu ada. Tak jarang, anak buah kapal juga ikut latah menyumbang sampah ke laut. Seolah-olah ritual ini sudah menjadi tradisi wajib. Entah siapa dulu yang mulai mencontohkan?

Greenpeace menyebutkan, 60 persen plastik sekali pakai masih beredar di dunia. Kebanyakan dilarung ke sungai dan danau. Lalu, berakhir di lautan. Fakta tersebut diperkuat Data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS).

Data BPS, Indonesia mengoleksi 64 juta ton sampah per tahun. Dari jumlah tersebut, 3,2 juta ton berupa sampah plastik. Terdiri dari 10 miliar lembar atau 85 ribu ton kantong plastik sekali pakai per tahun. Jika dirata-rata, setiap orang menyumbang 0,7 kilogram sampah per hari.

Alhamdulilah, Indonesia berada di posisi runner up setelah China. Sebagai penyumbang sampah plastik terbanyak di dunia. Sesuai hasil studi McKinsey and Co dan Ocean Conservancy.

Meski demikian, Indonesia meyakini. Optimis bebas polusi plastik tahun 2040 nanti. Komitmen yang disampaikan pemerintah Indonesia di panggung World Economic Forum 2020. Ekonomi sirkuler jadi andalan. Untuk memperlambat laju krisis iklim.

Tapi faktanya, pengelolaan sampah plastik masih tergolong rendah. Cenderung mengkhawatirkan. Korporasi belum terlalu peduli terhadap penggunanan plastik kemasan. Terbukti, produk-produk kemasan plastik sekali pakai masih banyak beredar di pasaran.

Sekilas, persoalan sampah plastik sekali pakai ini, terlihat sederhana. Cenderung dianggap sebelah mata. Tapi berpotensi mengguncang ekosistem dunia. Karena menjadi salah satu penyebab emisi karbon ke udara. Tidak hanya berdampak terhadap semesta. Melainkan juga kelangsungan hidup manusia.

Bukan tidak mungkin, nanti di suatu masa. Manusia memakai kantong plastik di kepala. Gara-gara suplai oksigen kian langka. Kampanye melawan plastik sekali pakai terus bergema. Memohon semua pihak membawa kantong sendiri saat berbelanja. Atau, menyertakan wadah makanan dan botol minum sedia kala.

PLTU Batubara

Musuh laut tak hanya sampah plastik. Masih ada teror lain bernama PLTU batubara. Lewat PLTU, Indonesia tengah menerapkan pola “Back to classic”. Biar beda.

Jepang boleh saja memasuki revolusi industri 5.0. Dengan industri canggih dan futuristik. Indonesia justru anti mainstream dengan proyek-proyek PLTU-nya. Kembali ke abad 18, saat penemuan mesin uap pertama.

Jangan-jangan, ini hanya simulasi revolusi industri 1.0? Atau memang baru memasuki revolusi industri 1.0?

Data Greenpeace, 20-30 persen polusi udara Jakarta merupakan sumbangan emisi PLTU batubara. Energi yang dihasilkan, berkontribusi besar terhadap gas rumah kaca. Masih menurut Greenpeace, pembakaran batubara melepas partikel polutan berbahaya. Karena mampu menembus sel darah manusia.

Sebagai role model, Jakarta seharusnya lebih pro terhadap energi ramah lingkungan. Tapi faktanya, proyek PLTU batubara justru menginspirasi daerah lain. Salah satunya PLTU batubara di Teluk Sepang, Kota Bengkulu.

Namun ada sedikit catatan dosa. Sejak PLTU beroperasi, sudah puluhan penyu ditemukan tak bernyawa. Ajaibnya, media lokal seolah kompak diam seribu bahasa. Berita yang muncul justru pencitraan PLTU beraroma pariwara.

Mengisahkan PLTU bak pahlawan. Modusnya Corporate Social Responsibility (CSR) untuk warga. Bercerita tentang proyek mulia berdalih kemajuan daerah. Memantaskan diri sebagai benchmark pembangkit listrik, dan mutiara Indonesia.

Mungkin gara-gara penyu bagian dari laut minoritas. Tidak penting untuk dibahas tuntas. Karena PLTU lebih berfaedah. Demi pendapatan daerah.

Terumbu Karang Rusak

Keberadaan penyu menjamin ekologi terumbu karang sehat. Ekosistem terjaga, ikan betah di habitat. Jika habitatnya punah, mata pencarian nelayan ikut tercekat. Maka, jangan heran jika banyak nelayan mendadak jadi penjahat.

Bom pun halal untuk menangkap ikan. Terumbu karang rusak, peduli setan. Tak ada lagi penyerap karbon dioksida. Pemanasan global pun kian nyata. Habitat biota laut tinggal cerita.

Sungguh, warisan yang sangat langka. Teruntuk mereka generasi penerus bangsa. Hanya terumbu karang albino alias coral bleaching yang tersisa. Laporan Greenpeace, 35,15 persen terumbu karang Indonesia masuk kategori buruk rupa.

Jaga selalu terumbu karang dan ekosistem laut. Dukung penegakan hukum terhadap oknum-oknum perusak laut. Agar tercapai bumi hijau, damai, dan selaras. Bukan laut minoritas.

Jangan sampai muncul lagu baru, “Nenek moyangku ke laut aja”.

Selamat Hari Laut Sedunia. Jadilah Berguna! [**]

Oleh: Tangguh Sipria Riang
Jurnalis, Pegiat Sosial, dan Pemerhati Lingkungan

Leave A Reply

Your email address will not be published.