MAKAN HATI

Oleh: Zacky Antony

0 89

GELAR dan kedudukan ternyata tidak membuat Harry dan Meghan Markle bahagia. Kekayaan dan kemewahan tidak memberikan cucu Ratu Elizabeth II itu ketenangan. Buktinya, pasangan muda ini memutuskan mengundurkan diri dari anggota senior keluarga Kerajaan Inggris pada 8 Januari 2020.

Tak hanya seantero Britania Raya kaget. Tapi dunia juga terkejut. Disaat banyak orang mengejar kemegahan dan kemewahan, Harry dan Meghan Markle justru meninggalkan itu dan ingin hidup mandiri. Disaat orang ingin menjadi raja dan ratu, mereka berdua justru melepas gelar bangsawan. Disaat banyak orang bangga dengan pangkat lengkap dengan seragam kerajaan, Harry dan Markle justru ingin menjadi warga biasa.

Kasus kemunculan Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Sunda Empire dan beberapa kerajaan lain yang muncul belakangan ini, menjadi bukti bahwa banyak orang ingin hidup mewah dalam sebuah kerajaan.

Di Indonesia, pangkat dan kedudukan adalah incaran. Buktinya, banyak orang menghalalkan segala cara untuk meraih pangkat dan jabatan. Rela nyogok agar dapat jabatan. Begitu dapat jabatan, sikat sana-sini untuk mengembalikan modal uang sogokan tadi.

Banyak orang juga tergila-gila harta dan kekayaan. Apapun dilakukan untuk mengejar kemewahan. Bangga kalau memakai mobil mewah. Bangga kalau punya rumah megah. Padahal rakyat lebih melihat apa yang diperbuat olehnya, bukan melihat kekayaannya. Percuma jadi pejabat kalau hasil menjilat. Percuma banyak harta tapi tak berguna. Percuma punya mobil mewah tapi tak pernah sedekah. Dan percuma saja kaya tapi tak pernah menolong sesama.

Kemewahan dan kemegahan tidak identic dengan kebahagiaan. Harry dan Meghan telah membuktikan hal itu. Padahal menjadi bagian dari keluarga Kerajaan Inggris adalah sebuah prestise. Kate Middleton dan Meghan Markle menyadari itu saat menikah dengan Pangeran William dan Pangeran Harry, dua putra Pangeran Charles, pewaris tahta Kerajaan Inggris.

Harry dan Meghan menyandang gelar HRH *(His and Her Royal Highness)* atau yang mulia. Sebuah gelar kebangsawanan yang sangat prestisius, bukan hanya di Inggris, tapi juga di Eropa, bahkan dunia.

Selain gelar kebangsawanan dicabut, konsekuensi lain bagi Harry dan Meghan adalah terkait penghasilan. Sebagai anggota kerajaan, Harry dan Meghan mendapat suntikan dana resmi dari kerajaan. Setelah mundur, Harry dan Meghan harus mandiri secara financial. Sederet konsekuensinya lain menyangkut fasilitas kerajaan seperti kediaman, pengamanan secara militer dan lainnya. Harry dan Meghan harus melepas semuanya itu.

Kedudukan dan gemerlap kemewahan seolah bara panas bagi Harry dan Meghan. Sehingga mereka mencari keteduhan itu jauh di luar istana. Mereka kini tinggal di Kanada. Beberapa media di Kanada melaporkan Harry dan Meghan kini hidup lebih bahagia yang terpotret dari senyum, raut wajah, sorot mata dan bahasa tubuh.

Dalam pidato resmi setelah ratu Elizabeth II menyepakati pengundurannya, Harry mengungkapkan faktor istri yang melatarbelakangi keputusannya. Keputusan itu diambil melalui pertimbangan berbulan-bulan. Sampai pada kesimpulan, tidak ada pilihan lain selain mundur dari anggota kerajaan.

Sebuah keputusan yang sulit. Harry berkata:

_“Saya juga mengetahui bahwa kalian telah mengetahui cukup baik soal saya selama ini bahwa wanita yang saya pilih sebagai istri saya mesti memiliki nilai-nilai yang sama dengan saya, dan dia (Meghan Markle) memilikinya._
_Dan Meghan adalah wanita yang sama yang saya cintai. Kami berdua melakukan semua yang kami bisa lakukan untuk mengibarkan panji dan menjalankan peran kami untuk negara ini dengan bangga._
_Ketika Meghan dan saya menikah, kami bersemangat, kami amat berharap dan kami di sini untuk melayani. Atas dasar itu, saya amat merasa sedih sampai pada hal ini. Keputusan yang saya buat untuk istri dan diri saya sendiri untuk mundur bukan baru-baru ini. Ada berbulan-bulan perbincangan setelah bertahun-tahun berbagai tantangan._
_Dan saya tahu saya tak selamanya membuat hal yang benar, namun sejauh ini, tidak ada pilihan lain.”_

Kehidupan dalam kerajaan tidak seindah bayangan banyak orang. Kisah Lady Diana, ibu pangeran William dan pangeran Harry, bercerita banyak soal itu. Berawal dengan kemegahan, berakhir dengan kesedihan. Lady Diana mengawali kehidupan mewahnya dalam lingkup Kerajaan Inggris saat menikah dengan Pangeran Charles pada 29 Juli 1981. Pernikahan keduanya berlangsung megah dan meriah. Disiarkan langsung hampir seluruh televisi Negara-negara di dunia. Saking megahnya, sampai dijuluki pernikahan termegah abad XX. Hampir semua sepakat, Charles-Diana adalah pasangan sangat serasi.

Masa-masa awal di istana, kehidupan terasa indah bagi Diana. Dia beradaptasi dengan lingkungan istana, baik soal makanan, fashion, hingga pergaulan. Kelahiran pangeran William dan pangeran Harry makin melengkapi kebahagiaan Charles-Diana. Tapi kebahagiaan itu ternyata tak berumur lama. Laut tak selamanya tenang, langit tak selamanya cerah. Terkadang laut penuh gelombang. Begitu juga langit terkadang muncul awan hitam pertanda akan hujan. Sebelas tahun usia pernikahan, keretakan mulai melanda rumah tangga Diana dan Charles.

Seperti kata pepatah, _life begins at forty._ Kehidupan baru dimulai pada usia 40 tahun. Fase yang penuh ujian. Pada usia 40 tahun, kasmaran Charles kepada mantan kekasih semakin menjadi-jadi. *CLBK*, Cinta Lama Bersemi Kembali pun berlaku. Camilla Rosemary, kekasih lama Charles sebelum menikah dengan Diana. Charles pun mencoba menata sebuah kehidupan baru. Kehadiran wanita idamam lain (WIL) dalam rumah tangga, menimbulkan kegelapan bagi Diana. Terlebih lagi, perselingkuhan Charles dan Camilla bukan lagi rahasia umum. Sampai akhirnya, keretakan rumah tangga Charles-Diana diumumkan ke publik. Diana mengungkapkan kepedihan hatinya dalam sebuah buku yang terbit 1992 berjudul *Diana: Her True Story.*

Diana akhirnya benar-benar keluar dari kehidupan Kerajaan Inggris. Kisah hidup sang putri berakhir tragis. Lima tahun kemudian, dia meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan di sebuah terowongan di Paris.

Cerita soal Diana tidak bahagia tinggal di Istana pernah pula dirasakan Masako Owada, istri pangeran Naruhito yang sekarang naik tahta menggantikan ayahnya kaisar Akihito.

Bedanya, cerita putri Masako Owada bukan soal perselingkuhan, tapi lebih soal adaptasi kehidupan istana yang penuh aturan. Dia pernah dikritik habis hanya karena berbicara 11 detik lebih lama dari sang suami. Sebagai istri hal itu dianggap tidak pantas dalam adat istiadat Jepang.

Dalam kasus Harry dan Meghan, orang bisa berspekulasi mengenai motif di belakangnya. Tapi dalam pernyataannya Harry jelas menyebut faktor istri sebagai dasarnya. Dia ingin mencari ketenangan. Harry sepertinya telah memetik pelajaran dalam kasus ibunya Putri Diana yang _“makan hati”_ tinggal di istana kerajaan. Ternyata keutuhan dan kebahagiaan keluarga, dia, istri dan anak semata wayangnya jauh lebih utama daripada sekedar gengsi. Selamat menjadi warga biasa Harry dan Meghan. Semoga menemukan apa yang dicari. Bahagia itu ada di hati. Tapi bukan makan hati.

Penulis adalah wartawan senior yang juga Ketua PWI Provinsi Bengkulu

Leave A Reply

Your email address will not be published.